
Tradisi Jadi Warisan Berharga Di Masjid Mungsolkanas Bandung
Tradisi Jadi Warisan Di Masjid Mungsolkanas Berdiri Sejak Tahun 1869, Menjadikannya Salah Satu Masjid Tertua Di Bandung yang masih aktif sampai sekarang. Nama “Mungsolkanas” sendiri adalah singkatan dari kalimat bahasa Sunda, “Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi Muhammad SAW”, yang berarti “Mari kita berselawat kepada Nabi Muhammad SAW”. Nama unik ini mencerminkan akar budaya lokal yang kuat dalam tradisi selawatan umat di sekitar masjid.
Awalnya, masjid ini di bangun secara sederhana dari bambu dan kayu hasil swadaya masyarakat setempat di kawasan Gang Mama Winata, Jalan Cihampelas, Kelurahan Cipaganti. Bangunan itu merupakan simbol kuat dari kegigihan komunitas Muslim setempat yang ingin memiliki tempat shalat sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun pernah mengalami beberapa kali renovasi dan pembaruan fisik — termasuk perubahan besar menjadi bangunan dua lantai pada akhir tahun 2000-an — esensi semangat keberagamaan dan tradisi tetap di pertahankan.
Tradisi Jadi Warisan Yang Mengikat Umat
Tradisi berselawat menjadi salah satu ciri khas paling penting yang membuat Masjid Mungsolkanas berbeda dari masjid lain di Bandung. Selawatan bukan hanya praktik ibadah tambahan. Tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat setempat. Bagi banyak jamaah, membaca sholawat sebelum dan sesudah salat merupakan kegiatan rutin yang mendalam maknanya. Bahkan menjadi semacam kebutuhan batin dalam konteks ibadah mereka.
Selawatan di Mungsolkanas tidak sekadar ritual formal. Tradisi ini tumbuh dari keyakinan bahwa berselawat membuka pintu keberkahan dan menjadi cara. Untuk menguatkan ikatan umat dengan Nabi Muhammad SAW dan nilai-nilai agama Islam. Karenanya, kegiatan selawatan kerap di lakukan dalam berbagai kesempatan, baik sebelum salat berjamaah, saat pengajian. Maupun ketika ada acara keagamaan tertentu seperti peringatan hari besar Islam atau doa bersama untuk anggota masyarakat yang sedang berduka.
Salinan Alquran Tulis Tangan: Warisan Fisik dan Spiritual
Selain tradisi selawatan, Masjid Mungsolkanas juga menyimpan salah satu peninggalan bersejarah yang sangat di hargai oleh jamaah dan pengurus masjid. Sebuah salinan Alquran tulisan tangan yang di perkirakan berusia lebih dari 150 tahun. Mushaf ini di tulis oleh tokoh pendiri masjid di kenal dengan nama Mama Aden atau KH Abdurrohim. Yang juga menjadi salah satu ulama berpengaruh dalam sejarah awal masjid tersebut.
Salinan Alquran ini kini di simpan rapi dalam etalase kaca di lantai dua masjid sebagai bukti nyata warisan spiritual yang terus di lestarikan. Meski bangunan masjid telah banyak berubah dari masa ke masa, mushaf ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah komunitas Muslim di Bandung dan bentuk konkrit dari dedikasi generasi terdahulu dalam menghormati dan menjaga Alquran.
Peranan Sosial Masjid dalam Komunitas
Masjid Mungsolkanas bukan hanya tempat untuk beribadah, tetapi juga berfungsi sebagai ruang berkumpulnya jamaah. Untuk belajar, berdiskusi, dan saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pengajian anak-anak, kegiatan Ramadan, layanan kesehatan gratis. Hingga pengajian ibu-ibu menunjukkan bagaimana masjid ini tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat sekitar.
Tradisi selawatan dan keberadaan salinan Alquran yang dijaga dengan penuh kehormatan menjadi dua aspek yang menyatukan komunitas sekitar masjid. Sekaligus menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual dan historis disinergikan dengan kehidupan modern. Masjid ini tidak hanya menyampaikan pesan agama, tetapi juga menjaga akar budaya lokal yang kuat terhadap praktik ibadah yang bermakna dan memberdayakan.
Menghormati Masa Lalu, Menyemai Masa Depan
Warisan yang dimiliki Masjid Mungsolkanas, baik dari tradisi selawatan maupun salinan Alquran tulisan tangan. Adalah bukti bahwa sejarah Islam di Bandung bukan sekadar catatan masa lalu. Tetapi hidup dalam praktik keagamaan massa kini. Keberadaan masjid ini mengingatkan umat bahwa tradisi dan spiritualitas dapat berjalan beriringan. Saling memperkaya dan membentuk identitas komunitas Muslim di tengah perubahan zaman.